// Haryanto ST, MT : Kembangkan Polimer Sintetik Untuk Medis!
Error
  • JLIB_DATABASE_ERROR_FUNCTION_FAILED

Haryanto ST, MT : Kembangkan Polimer Sintetik Untuk Medis!

Satu lagi kandidat doktor dari Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Purwokerto (FT UMP), Haryanto, ST, MT. Mantan Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerjasama periode 2005-2011 UMP ini tengah mempersiapkan defense desertasinya sebagai tugas akhir dalam menyelesaikan studi S3 pada bidang polimer di Yeungnam University, Korea Selatan. Meskipun, pada awalnya sempat bimbang ketika harus memilih antara Yeungnam University atau KFUPM King Fahd University Petroleum and Mineral University karena ia diterima dikeduanya, toh akhirnya Haryanto memutuskan untuk melanjutkan di Korea Selatan. Sebelumnya, putra asli Banyumas ini telah menyelesaikan S1 di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran dengan predikat lulusan terbaik dan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta kurang dari 2 tahun pada jurusan yang sama yaitu Teknik Kimia dengan konsentrasi pada bidang polimer.

 

Bukan tanpa alasan Haryanto memilih S3 di Korea Selatan, ada ketertarikan besar terhadap kemajuan teknologi Korea Selatan yang maju begitu pesat. Korea Selatan merdeka hanya berjarak 3 tahun setelah Indonesia, namun kemajuannya jauh lebih cepat daripada Indonesia. Perkembangan teknologi di Korea menjadi salah satu parameter dunia terutama di bidang telekomunikasi, Kedokteran dan Industri Kimia. Haryanto juga ingin budaya kerja keras dan disiplin di Korea Selatan menempel pada dirinya. “Saya berangkat ke lab jam 9 pagi, pulang jam 10 malam. Hampir semua lab di Korea sama. Mereka sangat menghargai waktu dan sangat disiplin. Budaya ini yang ingin saya adaptasi,” tuturnya.

 

 

 

Jauh dari rumah, tidak membuat Haryanto berdiam diri. Haryanto yang lahir di Sokaraja Kidul, Kabupaten Banyumas pada 15 Agustus 1974 ini sering mengikuti seminar dan publikasi paper internasional. Keaktifannya telah membuatnya mendapatkan kepercayaan sebagai reviewer di beberapa jurnal internasional. Beberapa papernya juga sudah terbit di jurnal internasional seperti Fabrication of (polyethylene oxide) hydrogels for wound dressing application Using E-beam“ di Macromolecular Research Journal (IF 1.8) penerbit Springer dan “Poly(ethylene glycol) dicarboxylate/ Poly(ethylene oxide) Hydrogel Film Co-crosslinked by Electron Beam Irradiation as an Anti-Adhesion Barrier” di Materials Science and Engineering Journal (IF 3.07 in 5 years) penerbit Elsevier. Selain itu, Haryanto juga ambil peran penting di berbagai aktifitas organisasi Korea Selatan. Ia menjabat sebagai Ketua dewan Syuro masjid Al amin Daegu, 2012-sekarang dan Ketua Dewan Pembina Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia di Daegu (FKMID), dan UNIMIG (Union Migrant Indonesia in Korea) 2013-sekarang.

 

 

Mengenai desertasinya, Haryanto menuturkan, masih sedikitnya ahli di Indonesia yang mengembangkan penggunaan polimer sintetik untuk aplikasi medis telah memotivasinya untuk mengembangkannya. “Ini sesuai keahlian saya, bidang polimer. Saya mencoba mengembangkan aplikasi polimer sintetik dalam beberapa aplikasi medis, khususnya penggunaan hydrogel film untuk pembalut luka, anti-lengket pasca operasi dan scaffold untuk rekayasa jaringan,” tuturnya.

 

 

Haryanto menjelaskan, dengan teknik radiasi menggunakan electron beam serta menambahkan beberapa senyawa baru pada bahan utama polyethylene oxide, ia berusaha untuk membuat macromolecule ataupun crosslinking polimer yang menghasilkan hydrogel tiga dimensi yang dapat diaplikasikan untuk keperluan medis tanpa meninggalkan zat toxic dalam polimer. Metode crosslinking yang dikembangkan oleh Haryanto ini tidak menggunakan zat kimia sebagai crosslinking agent sehingga sangat aman dan bebas dari sifat toxic yang dapat membahayakan manusia.

 

 

Teknik yang ditemukan untuk pembuatan hydrogel juga baru karena di dalam penelitian ini Haryanto menggunakan polyethylene oxide kering bukan dalam bentuk larutan yang nantinya dapat diterapkan lebih mudah untuk produksi skala besar serta sangat mudah dalam penyimpanannya dan tahan lama. Tingginya komitmen Haryanto pada desertasinya, telah menghasilkan 3 jenis pengembangan.

 

 

Pengembangan pertama yang telah dilakukan yaitu pembuatan pembalut luka dari hydrogel polimer dengan bahan utama polyethylene oxide yang dimodifikasi dengan menambahkan polyethylene glycol diacrylate untuk meningkatkan kekuatan mekaniknya. Hydrogel yang dihasilkan mempunyai sifat mekanik yang kuat tetapi sangat flexible dan dapat menyerap air ataupun darah yang keluar dari luka. Hydrogel ini sangat nyaman dipakai untuk pembalut luka serta tidak meninggalkan bekas pada luka. Dari hasil in vivo test diperoleh bahwa hydrogel ini sangat efektif digunakan sebagai pembalut luka terlebih luka yang banyak mengeluarkan darah.

 

 

 

Pengembangan kedua yang berhasil dilakukan yaitu pembuatan bahan anti lengket untuk keperluan pasca operasi. Selama ini lengket antar organ dalam tubuh manusia yang terjadi pasca operasi menjadi salah satu masalah utama dalam pembedahan yang dapat menimbulkan masalah lanjut atau bahkan kematian. Dengan menggunakan bahan utama yang sama yaitu polyethylene oxide Haryanto mencoba menambahkan senyawa baru yaitu polyethylene glycol dicarboxylate yang dibuat melalui polimerisasi dan terlebih dahulu di uji melalui biocompatible test. Hasil yang didapat sangat luar biasa dimana senyawa baru polyethylene glycol dicarboxylate bersifat biocompatible dan baru pertama kali digunakan dalam aplikasi medis serta hydrogel yang dihasilkan lebih baik dari Guardix-SG (salah satu bahan komersial yang ada) berdasar in vivo test.

 

 

Pengembangan ketiga yang sedang dilakukan adalah pembuatan scaffold untuk rekayasa jaringan makhluk hidup dengan memodifikasi PEO menggunakan hyperbranched polyglycidol. Scaffold ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan sel jaringan diluar tubuh makhluk hidup yang kemudian diterapkan kembali ke makhluk hidup dan selanjutnya jaringan sel akan tumbuh dan menggantikan jaringan sel yang rusak atau mati. Misalnya untuk rekayasa jaringan kulit ataupun rekayasa jaringan tulang. Haryanto meyakini, dengan teknik ini kulit rusak dapat tumbuh kembali seperti sedia kala tanpa harus melakukan tranplantasi kulit dari bagian lain. Pengembangan rekayasa jaringan merupakan tren yang masih hangat dalam dunia kedokteran.

 

 

Haryanto seperti tidak ingin membatasi dirinya dalam satu bidang, tanpa mengurangi totalitas desertasinya, Haryanto bersama kelompok researchnya juga sedang ikut merintis pembuatan pupuk organik dari lumpur laut. Mengingat Indonesia memiliki laut yang sangat luas dengan kandungan lumpur laut melimpah maka hal ini sangat potensial untuk dapat dikembangkan. Menurutnya, lumpur laut jika diolah dengan tepat dapat digunakan sebagai pupuk organik pada tanaman. Nampaknya, meneliti dan menciptakan inovasi telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia memegang teguh prinsip hidup adalah ibadah, “Berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, keyakinan dan usaha kuat akan mewujudkan setiap impian. Yakinlah, pertolongan dan kemudahan datang selama kita berikhtiar dan memohon padaNya,” katanya.

 

 

 Ketika ditanya tentang peran civitas akademika di masyarakat, Haryanto hanya berharap bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi pengembangan dan kemajuan teknologi nasional khususnya dalam mengaplikasikan polimer pada berbagai aplikasi nyata. Dia juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa Inggris di lingkungan universitas, karena menurutnya, bahasa Inggris adalah salah satu kunci gerbang untuk dapat mengakses ilmu dan mengembangkan teknologi secara global. (Pra)